Lombok TimurPariwisata

Air Terjun Sarang Walet Lombok Timur, Pesona Tersembunyi di Dalam Gua

Lombok Timur (NTBSatu) – Suasana sejuk dan suara gemericik air menyambut wisatawan yang memasuki Air Terjun Sarang Walet di Desa Kembang Kuning, Lombok Timur. Air terjun ini memiliki daya tarik berbeda karena alirannya berada di dalam gua.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jembatan bambu. Perjalanan singkat itu mengantarkan mereka menuju air terjun yang tersembunyi di antara dinding batu.

Bagi wisatawan asal Austria, Jonathan atau Jon, pemandangan di dalam gua menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ia mengaku sempat tertegun ketika pertama kali melihat keindahan air terjun tersebut.

“Tempat ini benar-benar menakjubkan. Saya sempat tertegun saat pertama kali masuk ke gua. Saya tidak menyangka tempat ini akan seindah itu,” kata Jon, Minggu, 25 Agustus 2026.

Ia juga menyukai kejernihan airnya. Jon sempat berenang, meski harus menahan dingin. Perjalanan menuju air terjun pun memberi pengalaman tersendiri, terutama ketika ia melintasi jembatan bambu.

“Airnya bersih dan saya suka tempat ini. Hanya saja, saya sempat kedinginan saat berenang. Saya juga sedikit gugup ketika melewati jembatan bambu,” ujarnya.

Pengelola Air Terjun Sarang Walet, Rendy Kuswara mengatakan, nama tersebut merujuk pada bentuk lokasi yang menyerupai gua. Nama itu bukan berarti terdapat sarang burung walet di dalamnya.

“Karena bentuknya seperti gua. Sebenarnya enggak ada sarang waletnya, kayak kelelawar saja. Jadi nama itu kayak perumpamaan” kata Rendy.

Berkembang Sejak 2017

Wisata ini mulai berkembang sekitar 2017. Pengelola kemudian membangun fasilitas pendukung pada 2018. Seiring waktu, Air Terjun Sarang Walet menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pada hari kerja, wisatawan asing lebih mendominasi kunjungan. Sementara itu, wisatawan lokal biasanya datang saat akhir pekan. Kunjungan wisatawan mancanegara juga meningkat pada Juni hingga Agustus, bertepatan dengan musim liburan di sejumlah negara.

Rendy memperkirakan jumlah wisatawan asing bisa mencapai ribuan orang selama musim ramai. Namun, pengelola belum memiliki data kunjungan yang pasti karena belum melakukan penghitungan secara rutin.

“kalau high season gitu ramai yang asing kayaknya beribuan deh. Itu asing aja, kalau sama lokal belum kita hitung lagi,” ujarnya.

Pengelola mematok tiket masuk Rp5 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp20 ribu untuk wisatawan mancanegara. Tarif tersebut mencakup fasilitas toilet dan gazebo untuk beristirahat, makan, maupun beribadah.

Pengunjung juga bisa berenang, berfoto, hingga memanggang makanan. Namun, mereka harus membawa kembali sampahnya karena pengelola tidak menyediakan tempat sampah di dalam kawasan.

Musim Hujan Kerap Jadi Ancaman

Rendy menjelaskan, banjir kerap menghanyutkan tempat sampah yang sebelumnya tersedia di sekitar air terjun. Kini, pengelola menempatkan tempat sampah di dekat loket masuk.

“Kita nggak sediakan tempat sampah di dalam. Kalau pengunjung makan di dalam, kami sarankan membawa kembali sampahnya,” ujarnya.

Di balik keindahannya, Air Terjun Sarang Walet menghadapi ancaman banjir saat musim hujan. Hujan deras dapat memicu arus kuat yang merusak jembatan bambu dan membahayakan pengunjung.

Karena itu, pengelola kerap menutup kawasan saat cuaca tidak mendukung. Penutupan bahkan bisa berlangsung dua hingga tiga bulan ketika hujan terus mengguyur.

“Kalau musim hujan, bahaya airnya naik. Jadinya kita lebih sering tutup kalau musim hujan,” kata Rendy.

Meski begitu, air terjun tetap mengalir saat musim kemarau. Pengunjung bisa menikmati keindahannya tanpa harus menunggu musim hujan.

Ruang di dalam gua juga terbatas. Saat kawasan ramai, pengelola mengatur pengunjung secara bergiliran. Wisatawan harus menunggu di luar hingga pengunjung di dalam keluar. (*)

Artikel Terkait