Kota Mataram

Gerimis Mulai Turun, Mataram Diprediksi Alami Hujan Normal Bulan Depan

Mataram (NTBSatu) – Fenomena gerimis yang membasahi Kota Mataram beberapa hari terakhir menjadi penanda awal masa pancaroba. Periode peralihan musim ini bertepatan dengan munculnya bibit awan hujan sepanjang Oktober 2026.

Hasil koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan intensitas curah hujan bakal memasuki taraf normal pada November 2026.

“Prakiraannya hujan mulai turun di bulan November dengan intensitas normal. Sementara puncak musim hujan untuk wilayah Mataram dan sekitarnya prediksinya Januari 2027,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Budi Wartono, Rabu, 21 Oktober 2026.

Menanggapi masa transisi cuaca ini, pemerintah daerah bergerak cepat menjalankan langkah preventif.

BPBD menggandeng Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram untuk membersihkan endapan lumpur. Dan sampah pada saluran drainase serta aliran sungai.

Pengerukan sistematis ini bertujuan menjaga kelancaran aliran air saat curah hujan meningkat. Budi menjelaskan, langkah antisipasi ini membuat seluruh saluran berfungsi maksimal, sekaligus mencegah luapan air ke permukiman warga.

“Begitu juga di wilayah pesisir, kondisi gelombang pantai terus kami pantau,” ujar Budi.

Di tengah transisi menuju musim basah, Budi menepis kekhawatiran ancaman kemarau panjang. Pihaknya memastikan kondisi Kota Mataram tetap stabil tanpa imbas kekeringan ekstrem seperti wilayah tetangga.

“Alhamdulillah, sejauh ini penyediaan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari masih terpenuhi dan aman,” tegas Budi.

Kepastian ini merujuk pada penelusuran lapangan BPBD bersama pemangku wilayah di enam
kecamatan dan 50 kelurahan se-Kota Mataram. Tim pemantau memastikan ketersediaan air bersih warga tetap aman tanpa laporan sumur mengering.

Sektor agraris pun menunjukkan kondisi serupa. Aktivitas bercocok tanam para petani di Mataram berjalan lancar.

“Begitu pula di sektor pertanian, aktivitas bercocok tanam masih berjalan normal, belum kabar gagal panen atau tanam,” jelas Budi.

Meski volume debit air saluran irigasi sempat menyusut akibat pasokan hulu berkurang, alirannya masih memadai untuk pengairan lahan pertanian warga hingga musim hujan tiba.

Enam Daerah Irigasi


Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning menyebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram memegang kewenangan atas 6 Daerah Irigasi berluas areal tersisa sekitar 900 hektare (Ha).

Perawatan rutin berupa operasi harian mengerahkan tenaga lapangan guna menjaga kebersihan serta kelancaran debit air. Sementara perbaikan fisik kerusakan sedang atau sporadis menerapkan skema swakelola, dan kerusakan berat melibatkan pihak penyedia secara kontraktual.

Selain pemeliharaan fisik jaringan, tantangan terbesar tata kelola SDA Mataram saat ini adalah tumpukan sampah kiriman penyumbat aliran sungai.

“Salah satu titik terparah kemarin kan di Kali Unus, sampah numpuk sepanjang 500 meter berlebar 15 meter menutup aliran air,” tukas Lale. (*)

Artikel Terkait