Kabupaten Bima

BMKG Peringatkan Potensi Karhutla di Bima-Dompu

Bima (NTBsatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan, suhu udara mencapai 37 derajat celsius, serta angin permukaan dengan kecepatan 25-31 kilometer per jam menjadi faktor yang perlu masyarakat waspadai.

Berdasarkan informasi Stasiun Meteorologi Kelas II Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Minggu, 18 Oktober 2026, tingkat bahaya kebakaran di Kabupaten Bima dan Kota Bima berada pada kategori sangat tinggi. Sementara itu, Kabupaten Dompu masuk kategori tinggi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena periode Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah wilayah telah mencapai lebih dari empat bulan. Dalam infografis BMKG, HTH tercatat 145 hari di Kabupaten Bima, 140 hari di Kabupaten Dompu. Sementara, 144 hari di Kota Bima.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin BMKG Bima, Moch. Syaiful Annas, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Serta, tidak melakukan aktivitas pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami mengingatkan warga, terutama yang ada di kawasan savana, lahan pertanian, semak belukar, dan vegetasi yang telah mengering agar tidak sembarang membakar,” kata Moch Syaiful Annas.

Salain itu, pihaknya mencatat estimasi Initial Spread Index (ISI) sekitar 18 dengan kategori sangat tinggi. Indeks ini menggambarkan potensi penyebaran api berdasarkan kondisi cuaca, termasuk pengaruh angin.

Angin Permukaan Capai Puluhan Kilometer Per Jam

Angin permukaan dari arah tenggara dengan kecepatan 25-31 kilometer per jam juga berpotensi mempercepat penjalaran api apabila terjadi kebakaran. Kondisi tersebut dapat membuat penanganan kebakaran menjadi lebih sulit apabila api telanjur meluas ke kawasan vegetasi kering.

“Karena itu, kami meminta masyarakat tidak menganggap remeh api kecil, pembakaran sampah, maupun aktivitas lain yang dapat menimbulkan percikan api di lahan terbuka,” ucapnya menegaskan.

Meskipun tingkat potensi kebakaran tergolong tinggi hingga sangat tinggi, infografis BMKG mencatat tidak ada titik panas (hotspot) yang terdeteksi dalam data 24 jam terakhir untuk Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, maupun Kota Bima.

Data hotspot tersebut bertanggal 16 Oktober 2026. Tidak ada temuan titik panas bukan berarti wilayah Bima dan Dompu sepenuhnya bebas dari ancaman kebakaran.

Hotspot merupakan hasil deteksi pada waktu dan cakupan pengamatan tertentu, sedangkan indeks bahaya kebakaran memperkirakan potensi berdasarkan kondisi cuaca. Dengan demikian, kondisi berisiko tetap membutuhkan langkah pencegahan meskipun belum ada temuan titik panas.

Sejumlah Kecamatan Status Awas Kekeringan

Peta status kekeringan dalam infografis BMKG juga memperlihatkan sejumlah kecamatan di wilayah Bima dan Dompu berada pada kategori awas.

Di Kabupaten Bima, tercatat sembilan kecamatan berstatus awas dan satu kecamatan berstatus waspada. Wilayah tersebut meliputi Belo dan Bolo serta tujuh kecamatan lainnya.

Di Kabupaten Dompu, lima kecamatan berstatus awas, yakni Dompu, Kempo, Pajo, Pekat, dan Woja. Sementara itu, di Kota Bima, Kecamatan Raba tercatat berada pada kategori awas.

“Kondisi kekeringan tersebut meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap api. Apabila pembakaran dilakukan tanpa pengendalian, kebakaran berpotensi meluas. Terutama ketika didukung angin yang cukup kencang,” terang pria yang akrab disapa Annas.

BMKG Bima mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, semak, maupun sampah di area terbuka. Imbauan tersebut terutama untuk masyarakat yang beraktivitas di kawasan savana dan ladang kering.

“Kami merekomendasikan BPBD dan Manggala Agni untuk tetap melaksanakan patroli rutin di kawasan rawan karhutla. Khususnya Donggo, Woha, Hu’u, dan Tambora,” kata Annas.

Ia beharap, masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. Tujuannya, agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum api menjalar ke wilayah yang lebih luas.

Dengan kondisi kekeringan ekstrem, suhu udara yang dapat mencapai 37 derajat Celsius, dan indeks penyebaran api dalam kategori sangat tinggi, pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah Bima–Dompu.

BMKG melalui Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima terus memantau perkembangan cuaca dan potensi karhutla serta mengimbau masyarakat mengikuti informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG. (MSR)

Artikel Terkait