Bukan Judul, Masalah Jadi Kunci Awal Skripsi Mahasiswa STKIP Tamsis Bima
Bima (NTBSatu) – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima mendapat dorongan untuk mulai menyiapkan skripsi sejak semester lima.
Dalam penyusunan karya ilmiah, mahasiswa perlu menemukan masalah nyata sebagai dasar penelitian sebelum menentukan judul.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Endang Susilawati, M.Pd., saat mengisi kuliah umum daring seri ketiga bertema “Skripsi Dimulai dari Sini: Merancang Penelitian yang Layak Jalan dan Layak Lulus”, Senin malam, 19 Oktober 2026. Sekitar 60 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut melalui Zoom.
Endang menegaskan, penelitian harus berangkat dari persoalan nyata, bukan sekadar keinginan menentukan judul. Masalah penelitian dapat muncul dari kesenjangan antara teori atau harapan dan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Skripsi itu sebenarnya tidak mulai dari judul. Yang paling penting adalah masalah,” ujarnya.
Ia mencontohkan siswa kelas 4 sekolah dasar yang mampu membaca, tetapi belum memahami isi bacaan. Mahasiswa dapat mengangkat persoalan tersebut sebagai bahan penelitian setelah mengumpulkan bukti melalui observasi, wawancara, asesmen, atau dokumen pendukung.
Menurut Endang, temuan tersebut menjadi dasar untuk merumuskan judul sekaligus menentukan arah penelitian. Perubahan judul setelah ujian skripsi juga bukan sebuah kegagalan selama penelitian tetap memiliki tujuan yang jelas.
Dorong Persiapan Skripsi Sejak Dini
Ketua Program Studi PGSD STKIP Tamsis Bima, Rizalul Fiqry menjelaskan, program studi tengah memetakan proses kelulusan agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi berdasarkan kesiapan akademik.
Melalui mata kuliah Seminar Proposal, mahasiswa diarahkan menghasilkan proposal yang siap mereka seminarkan.
Sementara itu, mata kuliah Metodologi Penelitian pada semester 6 menargetkan penyusunan Bab 1 dan Bab 3. Persiapan tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi pada semester 7.
Endang menyarankan mahasiswa menyusun rencana mundur (backward plan) berdasarkan target kelulusan. Mahasiswa juga perlu membaca satu hingga dua artikel ilmiah setiap pekan dan membuat tabel ringkasan penelitian terdahulu untuk menemukan celah penelitian.
Ia memperbolehkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu, tetapi mahasiswa tetap harus memeriksa sumber dan memahami isi penelitian karena AI berpotensi menghasilkan informasi keliru.
Dalam menentukan metode, mahasiswa perlu menyesuaikannya dengan pertanyaan penelitian. Metode kualitatif cocok untuk menelusuri proses dan pengalaman, korelasional untuk menguji hubungan antarvariabel, eksperimen untuk membandingkan perlakuan, serta penelitian dan pengembangan (R&D) untuk menghasilkan produk.
Endang juga mengingatkan enam aspek kelayakan penelitian, yakni masalah, izin sekolah, ketersediaan responden, instrumen, waktu, dan etika. Mahasiswa harus menjaga kerahasiaan identitas responden serta menjalankan penelitian secara jujur dan bertanggung jawab.
Saat sesi tanya jawab, Endang menjelaskan bahwa mahasiswa boleh menggunakan judul yang serupa dengan penelitian terdahulu selama terdapat perbedaan masalah, konteks, atau indikator. Menurutnya, skripsi jenjang sarjana bertujuan melatih kemampuan menulis ilmiah secara runtut.
Sebagai tindak lanjut, Prodi PGSD STKIP Taman Siswa Bima berencana mengadakan klinik proposal untuk membantu mahasiswa merancang penelitian. Endang berpesan agar mahasiswa tidak menunggu judul sempurna sebelum mulai menyusun skripsi.
“Yang paling penting, judul itu bisa kita lakukan,” katanya. (*)




