AdvertorialPendidikan

Guru Olahraga SD di Mpunda Diajak Terapkan “Sport Science Tanpa Alat Mahal

Bima (NTBSatu) – Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Mpunda, Kota Bima, NTB, mendapat sosialisasi penerapan sport science atau ilmu keolahragaan.

Kegiatan berlangsung di SDN 40 Lewirato, Senin, 19 Oktober 2026, dengan menghadirkan dosen PJKR STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima, Dr. Rabwan Satriawan, M.Pd., sebagai narasumber.

Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Kecamatan Mpunda menyelenggarakan kegiatan tersebut mulai pukul 08.30 Wita. Sosialisasi ini menjadi bagian dari program kerja KKG periode 2026–2027 dalam naungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Bima.

Rabwan menjelaskan, penerapan sport science pada jenjang sekolah dasar bukan bertujuan mencetak atlet sejak dini.

Pendekatan ini membantu guru memahami kemampuan gerak, kebugaran, perilaku, dan kebutuhan setiap murid agar pembelajaran olahraga berlangsung aman serta efektif.

Ia mencontohkan kondisi satu kelas dengan 30 murid yang memiliki kemampuan berbeda. Ada anak yang mampu berlari cepat, tetapi mudah lelah. Sebagian lainnya terampil bergerak, tetapi kurang percaya diri.

Perbedaan tersebut menuntut guru menyesuaikan aktivitas agar seluruh murid mendapat kesempatan belajar sesuai kemampuan masing-masing.

Alat Sederhana untuk Evaluasi Pembelajaran

Dalam sosialisasi tersebut, Rabwan memperkenalkan siklus pembelajaran berbasis bukti melalui empat tahap, yaitu mengamati, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi. Guru dapat menggunakan catatan sederhana secara konsisten sebagai dasar perbaikan metode mengajar tanpa harus membeli peralatan mahal.

Guru juga perlu memperhatikan lima indikator, meliputi keterampilan gerak, kebugaran, partisipasi dan usaha, pemahaman, serta kesejahteraan murid.

Pengamatan dapat memanfaatkan stopwatch, garis lapangan, kerucut, lembar observasi, skala usaha, dan video singkat dengan izin.

Sebagai contoh, Rabwan menjelaskan rancangan pembelajaran lari dan perubahan arah selama 35 menit. Kegiatan mencakup pemanasan, eksplorasi gerak, latihan lintasan zig-zag, permainan estafet, dan refleksi.

Guru dapat menilai perkembangan murid melalui tiga kategori, yakni perlu dukungan, berkembang, dan konsisten. Variasi tugas juga perlu menyesuaikan kemampuan anak, mulai dari tingkat awal hingga tantangan lebih tinggi, tanpa memberikan label negatif kepada murid.

Rabwan turut menekankan pentingnya keselamatan selama pembelajaran. Guru perlu memeriksa kondisi lapangan, menyediakan air minum, memberi waktu istirahat, dan meningkatkan intensitas aktivitas secara bertahap. Aktivitas harus berhenti apabila murid mengalami nyeri, pusing, atau sesak yang tidak wajar.

Ia juga mendorong pemanfaatan permainan tradisional untuk melatih koordinasi, kelincahan, dan kerja sama. Guru dapat menyesuaikan aktivitas dengan cuaca Kota Bima serta berbagi variasi permainan dan lembar observasi antarsekolah.

Pada sesi praktik, peserta mengevaluasi satu pembelajaran PJOK melalui lima aspek, mulai dari tujuan gerak, bukti belajar, penyesuaian aktivitas, risiko keselamatan, hingga tindak lanjut. Latihan selama 10 menit ini bertujuan menghasilkan rancangan pembelajaran berbasis bukti yang siap diterapkan di kelas.

Rabwan menutup pemaparannya dengan tiga pesan utama, yakni mengamati, menyesuaikan, dan belajar bersama. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait