BMKG Petakan 14 Segmen Rawan Gempa dan Tsunami Megathrust
Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperketat pemetaan zona megathrust di Indonesia.
Langkah ini mengiringi imbauan pemerintah agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dan tidak menyebarkan kepanikan.
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr. Supartoyo, S.T., M.T., menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat terkait karakteristik bencana dari sumber geologi tersebut.
“Megathrust ini merupakan zona subduksi, zona benturan antara lempeng samudra dan lempeng benua. Di mana salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya pada kedalaman kurang dari 50 kilometer,” ujarnya, mengutip Instagram @esdm pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Batasan Sains dan Basis Mitigasi
BMKG mencatat sedikitnya 14 segmen megathrust membentang di wilayah Indonesia. Sumber gempa pada zona subduksi ini menyimpan potensi kekuatan magnitudo maksimum antara M 7,8 hingga M 9,2.
Segmen Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi energi terbesar hingga M 9,2, lalu segmen Jawa sebesar M 9,1. Beberapa wilayah lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa Barat, hingga Jawa Timur masing-masing menyimpan potensi dampak hingga M 8,9.
Meskipun peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) terus diperbarui, pemerintah menekankan batasan sains mutakhir dalam memprediksi kejadian gempa. Supartoyo menjelaskan, hingga kini belum ada teknologi yang sanggup memastikan waktu terjadinya guncangan.
“Meskipun kita sudah bisa menentukan KRB gempa bumi dan tsunami, tetapi sains belum bisa memprediksi kapan gempa bumi itu akan terjadi, di mana tempatnya, dan berapa magnitudonya,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Badan Geologi menjadikan peta KRB sebagai basis utama perencanaan tata ruang daerah serta acuan penyusunan rencana mitigasi kebencanaan nasional.
Penguatan Literasi dan Kesiapsiagaan
Di sisi lain, BMKG menegaskan informasi potensi megathrust bukanlah kabar mengenai gempa yang akan meluncur dalam waktu dekat. Informasi tersebut berfungsi sebagai landasan simulasi dan peningkatan kesiapsiagaan warga di zona rawan.
“Megathrust bukan untuk takuti, tetapi untuk memahami dan mengantisipasi. Kesiapsiagaan harus mulai sebelum gempa terjadi,” ujarnya, mengutip Instagram @infobmkg pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Pemerintah mendorong masyarakat menerapkan pendekatan Literasi, Edukasi, dan Mitigasi (LEM) secara aktif. Langkah konkret mitigasi meliput pemahaman jalur evakuasi, penyediaan Tas Siaga Bencana, pemastian kelayakan bangunan tahan gempa, serta penghentian penyebaran narasi spekulatif yang belum terverifikasi. (*)




