Bahan Baku Menipis, Pabrik Porang Lombok Timur Berhenti Beroperasi
Lombok Timur (NTBSatu) – Pabrik pengolahan porang di Lombok Timur kini berhenti berproduksi. Pabrik di Pringgabaya kesulitan mendapat bahan baku setelah musim panen porang berakhir.
Kepala Dinas Perindustrian Lombok Timur, Lalu Alwan Wijaya mengatakan, petani porang saat ini mulai kembali menanam. Kondisi tersebut membuat pasokan umbi porang ke pabrik menurun.
“Sekarang sudah masuk masa tanam. Panennya nanti kami perkirakan sekitar Maret sampai April,” kata Alwan, Senin, 5 Oktober 2026.
Selama beroperasi, pabrik tidak hanya mengandalkan hasil panen petani Lotim. Industri tersebut juga mendatangkan porang dari sejumlah daerah lain.
Pasokan antara lain berasal dari Lombok Utara, Sumbawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, daerah-daerah tersebut juga memasuki masa tanam. Akibatnya, pasokan bahan baku ke pabrik ikut berhenti.
Dorong Perluasan Penanaman Porang
Alwan mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur akan mendorong penanaman porang lebih luas. Pemerintah menargetkan penanaman berlangsung mulai Desember atau menjelang musim hujan.
“Kalau mulai tanam sekitar Desember, nanti perkiraan panennya Maret atau April. Sekarang memang belum ada panen,” ujarnya.
Pemkab mencatat, luas lahan porang di Lotim mencapai sekitar 4.000 hektare. Pemerintah berharap produksi dari lahan tersebut dapat memperkuat pasokan bahan baku bagi industri pengolahan porang.
Persoalan pasokan bahan baku muncul ketika pabrik sebenarnya masih memiliki produk siap ekspor.
Sebanyak 92 ton chips porang kini tersimpan di pabrik pengolahan di Pringgabaya. Jumlah tersebut setara dengan empat kontainer chips porang yang sudah siap dikirim.
“Yang sudah berbentuk chips itu sekitar 92 ton. Sekarang ada empat kontainer yang sudah siap dikirim,” jelas Alwan.
Di sisi lain, ekspor perdana chips porang Lotim ke Cina belum terealisasi. Buyer yang sebelumnya menyatakan siap membeli memilih mengambil pasokan dari daerah lain.
Pemkab Lotim kini mencari buyer pengganti dari Cina. Pemerintah sudah bertemu dengan calon buyer tersebut dan mengirim sampel chips porang untuk proses penjajakan.
Alwan mengatakan pihaknya belum dapat memastikan waktu pengiriman. Pemerintah masih menunggu hasil komunikasi dengan calon pembeli baru.
Jika kerja sama berjalan, empat kontainer chips porang yang kini tersimpan di pabrik dapat segera masuk pasar ekspor. (*)




