KesehatanSumbawa Barat

Gigitan Hewan Penular Rabies di KSB Tembus 357 Kasus

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di Kabupaten Sumbawa Barat menembus 357 kasus hingga pertengahan tahun 2026. Oleh karena itu, penanganan darurat mandiri pada 15 menit pertama pascagigitan menjadi prioritas utama guna menekan risiko kematian.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Carlof, M.MRS., MQM. menegaskan, korban tidak boleh menunda pertolongan pertama hanya demi menunggu gejala muncul. Sebaliknya, warga harus segera membersihkan bekas luka menggunakan sabun dan air mengalir.

“Ketika kita digigit anjing, kucing atau monyet, yang perlu kita lakukan adalah cuci luka akibat gigitan itu dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit,” ujar dr. Carlof, Kamis, 1 Oktober 2026,

IKLAN

Sebab, grafik kasus gigitan hewan di KSB menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data medis mencatat angka kasus sempat menyentuh 425 kasus pada 2022 serta 416 kasus pada 2025 lalu.

“Tidak semua anjing itu rabies. Yang ada adalah Gigitan Hewan Penular Rabies atau GHPR,” ujarnya.

Sasar Penanganan Medis Cepat

Oleh sebab itu, pemahaman tentang GHPR sangat penting agar warga tidak meremehkan gigitan hewan penular. Bahkan, tenaga medis di Puskesmas dan RSUD siap melakukan observasi untuk pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR).

IKLAN

Selanjutnya, daerah menyediakan armada TRC Ambulans bagi korban yang menghadapi kendala transportasi ke fasilitas kesehatan. Warga dapat mengakses layanan ini melalui panggilan cepat Call Center KSB Maju Kesehatan.

“Prinsipnya adalah penanganan cepat sebelum virus menyebar ke jaringan saraf,” lanjut dr. Carlof.

Akibatnya, pertolongan pertama dari keluarga pada menit awal sangat menentukan proses penyembuhan korban. Penanganan medis di puskesmas akan berjalan lebih efektif jika luka sudah bersih dari cemaran air liur.

Meskipun demikian, kesadaran warga dalam mencuci luka secara mandiri masih membutuhkan dorongan terus-menerus. Petugas faskes di seluruh wilayah terus menggencarkan edukasi guna mencegah fatalitas akibat insiden rabies.

“Masyarakat jangan menunggu munculnya keluhan untuk mencari pertolongan setelah mengalami gigitan,” pungkas dr. Carlof. (*)

Artikel Terkait