Cegah Stunting Lewat Inovasi Pangan, Ibu-Ibu PKK Lombok Barat Belajar Olah Cangkang Telur Jadi Dimsum
Lombok Barat (NTBSatu) – Upaya pencegahan stunting tidak hanya mengandalkan edukasi gizi melalui penyuluhan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) menghadirkan pendekatan berbeda melalui pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi bahan pangan bernilai guna.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung di Dusun Kongok, Desa Meninting, Kabupaten Lombok Barat, pada 15 Agustus 2026. Sebanyak 46 ibu PKK mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan edukasi stunting dengan pelatihan pengolahan cangkang telur menjadi bahan campuran kulit dimsum.
Edukasi Gizi Tingkatkan Pemahaman Pencegahan Stunting
Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker FKIK Unram, apt. Selvira Anandia Intan Maulidya, M.S.Farm., membuka kegiatan dengan penyampaian materi mengenai stunting. Ia menjelaskan pengertian stunting, berbagai faktor yang memicu gangguan pertumbuhan anak, serta pentingnya pemenuhan gizi sejak dini.
Materi tersebut juga menyoroti peran keluarga dalam memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi secara optimal. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya pola makan beragam dan seimbang untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak.
“Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menerapkan pola makan yang beragam dan bergizi seimbang,” ujar Selvira kepada NTBSatu.
Menurutnya, asupan berbagai zat gizi, termasuk mineral seperti kalsium, memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Melalui edukasi tersebut, tim pengabdian berharap para ibu PKK semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi keluarga sekaligus mampu memanfaatkan sumber pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Cangkang Telur Jadi Bahan Campuran
Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti pelatihan pengolahan cangkang telur menjadi tepung. Peserta memulai proses pengolahan dengan mencuci cangkang telur menggunakan air mengalir. Selanjutnya, peserta merebus cangkang telur selama 30 menit dan mengulangi proses perebusan selama 30 menit berikutnya untuk memastikan kebersihan bahan.
Peserta kemudian meniriskan cangkang telur selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, peserta menghancurkan cangkang secara kasar dan melanjutkan proses penyangraian hingga kering.
Tahapan berikutnya berupa penghalusan menggunakan blender. Peserta lalu mengayak hasil blender agar memperoleh tepung dengan ukuran partikel yang lebih seragam.
“Tepung cangkang telur tersebut kemudian dicampurkan dengan tepung terigu untuk digunakan dalam pembuatan kulit dimsum,” urainya.
Peserta Praktik Langsung dan Antusias Berdiskusi
Pelatihan berlangsung secara praktik sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan secara langsung. Para ibu PKK tidak hanya menyaksikan proses pembuatan tepung cangkang telur, tetapi juga ikut membuat kulit dimsum hingga siap untuk tahap pengolahan berikutnya.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi mengenai teknik pengolahan cangkang telur serta peluang pemanfaatannya sebagai produk pangan rumah tangga.
“Pemanfaatan cangkang telur ini memberikan perspektif baru bagi masyarakat bahwa bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah masih dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna,” paparnya.
Selain menambah wawasan mengenai gizi keluarga, inovasi tersebut membuka peluang pengembangan produk pangan kreatif yang berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Tim pengabdian menegaskan bahwa inovasi pangan melalui pemanfaatan cangkang telur hanya menjadi salah satu bagian dari upaya pencegahan stunting. Pencegahan stunting tetap membutuhkan dukungan berbagai faktor, mulai dari pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang tepat, lingkungan sehat, pemantauan pertumbuhan anak, hingga akses layanan kesehatan.
Melalui kombinasi edukasi dan praktik pengolahan pangan, FKIK Unram berupaya meningkatkan literasi gizi masyarakat sekaligus memperkenalkan keterampilan baru.
Program tersebut juga menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi inovatif yang dekat dengan kebutuhan masyarakat serta mampu mengubah limbah rumah tangga menjadi produk pangan bernilai tambah. (*)




