Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ternyata Ini Faktor Pemicunya
Mataram (NTBSatu) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 29 September 2026.
Di pasar spot, mata uang Indonesia terdepresiasi 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp18.005 per dolar AS. Hal ini sesuai informasi dari BRI Danareksa.
“Rupiah melemah menembus Rp18.000 per dolar AS pada Selasa. Berbalik dari penguatan sebelumnya di tengah penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) bertahan di dekat level tertinggi dua bulan didorong kenaikan harga minyak, ekspektasi pengetatan The Fed, dan risiko geopolitik,” tulisnya, mengutip Kompas.com pada Selasa, 29 September 2026.
Sentimen Global dan Tekanan Domestik
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tren penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) saat ini bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan.
Kenaikan harga minyak dunia, lonjakan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed). Termasuk peningkatan risiko geopolitik mendorong apresiasi mata uang AS tersebut.
Di samping faktor eksternal, lonjakan tekanan terhadap rupiah berasal dari dalam negeri. Tingginya permintaan valuta asing (valas), khususnya dari para importir, mendorong kenaikan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Kondisi tersebut kian berat seiring berlanjutnya aksi pelepasan aset domestik oleh investor asing.
“Tekanan domestik meningkat akibat tingginya permintaan valas dari importir dan berlanjutnya arus keluar modal dari aset domestik,” lanjutnya.
Langkah Intervensi Bank Indonesia
Menghadapi tingginya tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menggelar langkah stabilisasi nilai tukar di pasar. Bank sentral mengintervensi pasar melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, pasar spot domestik, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Guna menjaga stabilitas perekonomian, BI juga mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen selama tiga bulan berturut-turut. Keputusan ini menyusul kenaikan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei.
Saat ini, para pelaku pasar terus mencermati rilis sejumlah indikator ekonomi nasional pekan ini, antara lain data neraca perdagangan Agustus, angka inflasi September, dan indikator aktivitas manufaktur. (*)




