BERITA NASIONAL

Tradisi Lebaran yang Mulai Pudar di Mata Generasi Muda

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Lebaran selalu identik dengan momen kemenangan dan kehangatan berkumpul bersama keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan teknologi, wajah perayaan Idulfitri kini mulai berubah. Beberapa tradisi yang dulunya dianggap sebagai “menu wajib”, perlahan mulai ditinggalkan atau dimodifikasi oleh generasi muda demi kepraktisan.

Berdasarkan penelusuran NTBSatu, berikut adalah beberapa tradisi yang frekuensinya mulai menurun di tengah masyarakat yang telah kami rangkum:

IKLAN

1. Berburu Petasan dan Mercon

    Di era 90-an hingga awal 2000-an, petasan dan mercon adalah “hiburan wajib” anak-anak saat Lebaran. Namun, tradisi ini nyaris hilang akibat larangan pemerintah dan kesadaran akan bahayanya.

    2. Redupnya Takbiran Keliling

    Malam Lebaran yang dulunya riuh dengan pawai obor dan bedug keliling kini mulai tenang. Karena alasan keamanan dan ketertiban lalu lintas, tradisi ini mulai jarang terlihat. Generasi muda sekarang lebih banyak menghabiskan malam takbiran dengan beribadah di masjid atau berkumpul tenang di rumah bersama keluarga inti.

    IKLAN

    Pergeseran ini menjadi bukti bagaimana teknologi dan pola pikir modern memengaruhi cara kita merayakan kemenangan, meski esensi silaturahmi tetap menjadi inti yang utama.

    IKLAN

    3. Membuat Kue Kering di Rumah

    Dahulu, aroma mentega dan selai nanas dari oven tangkring menjadi penanda nyata Lebaran sudah di depan mata. Ibu-ibu biasanya sibuk di dapur bersama anak-anak untuk mencetak nastar atau kastengel.

    Namun, kesibukan pekerjaan dan banyaknya pilihan toko daring membuat tradisi ini luntur. Generasi muda kini lebih memilih membeli kue siap saji yang tinggal dipesan melalui aplikasi demi menghemat waktu dan tenaga.

    4. Dari Kartu Ucapan Fisik ke Pesan Instan

    Dahulu, kantor pos akan penuh sesak oleh tumpukan kartu ucapan berwarna-warni menjelang Lebaran. Menulis pesan personal dengan tangan memberikan kesan sentimental yang mendalam. Kini, tradisi ini dianggap kurang efisien.

    Ucapan selamat cukup diwakili oleh desain grafis estetik atau pesan singkat melalui WhatsApp, yang meski praktis, menghilangkan unsur effort personal di dalamnya.

    5. Budaya “Open House” Spontan Vs Janji Temu

    Di masa lalu, pintu rumah selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi. Namun saat ini, muncul pergeseran di mana privasi menjadi prioritas.

    Generasi muda cenderung kurang nyaman jika ada tamu datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Akibatnya, muncul tren “janjian dulu” sebelum bertamu, sehingga konsep rumah terbuka sepanjang hari mulai jarang ditemui.

    6. Gelas Kaca ke Kemasan Sekali Pakai

    Menyuguhkan sirup dalam gelas kaca cantik adalah simbol keramahtamahan klasik. Namun, karena alasan praktis agar tidak perlu mencuci tumpukan gelas, banyak keluarga muda kini beralih ke air mineral kemasan atau minuman kaleng. Meski efisien, sentuhan hangat saat menuangkan minuman secara manual perlahan mulai tergantikan oleh kemasan plastik.

    7. Ziarah Kubur Keluarga Besar

    Ziarah kubur biasanya menjadi momen pertemuan keluarga besar (trah) dari berbagai kota. Namun, karena durasi libur mudik yang mepet dan kemacetan, ziarah kini sering dilakukan secara individual atau hanya bersama keluarga inti. Nuansa “kumpul trah” di pemakaman pun tidak lagi seramai dulu.

    8. “Salam Tempel” Digital

    Berburu uang pecahan kecil di bank kini mulai beralih ke ranah digital. Generasi muda lebih suka menggunakan fitur e-wallet atau transfer bank untuk membagikan Tunjangan Hari Raya (THR). Selain lebih aman karena tidak perlu membawa uang tunai banyak, cara ini dianggap praktis untuk berbagi dengan saudara yang tinggal jauh. (Andini)

    Berita Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Back to top button