Menikmati Tibu Joet, Wisata Gratis Bernuansa Alam di Jantung Kota Mataram

Mataram (NTBSatu) – Suara gemericik air mengalun pelan di antara bebatuan Sungai Jangkuk. Udara terasa lebih segar, rimbun pepohonan di sekelilingnya memayungi aliran air yang kini jernih, seakan menyembuhkan luka lama kawasan ini.
Di tepi sungai, anak-anak berlarian, tertawa riang, sesekali menyelam dan berenang sambil bersenda gurau.
Orang tua duduk di tikar, menikmati kopi panas dan semilir angin. Tempat ini bernama Tibu Joet. Sebuah sudut baru Kota Mataram yang dulu tak terpikirkan akan menjadi ruang wisata dan harapan.
Tibu Joet terletak di Lingkungan Marong, Kelurahan Karang Tatah, Monjok, Kota Mataram.
Dulu, kawasan ini nyaris tak dilirik. Aliran sungai penuh sampah, baunya menyengat, dan tak jarang menjadi sumber keluhan warga. Namun kini, wajahnya berubah total.
Sungai yang dulu ‘terlupakan’ itu disulap menjadi tempat bermain air, river tubing, hingga wisata kuliner lokal yang menggugah selera.
“Nama Tibu Joet kami ambil dari cerita lama. Di sini dulu ada pohon Joet, tempat warga berkumpul, mencuci, dan ngobrol. Tempat itu dulu jadi pusat kehidupan, makanya kami hidupkan kembali dengan semangat yang sama,” ujar Kepala Lingkungan Marong, Lalu M. Yakub, Selasa, 29 Juli 2025.
Menurutnya, perubahan ini berawal dari keprihatinan. Ia dan warga tak tahan melihat lingkungan yang terus memburuk. Maka digelarlah kerja bakti dengan membersihkan sungai, menata bantaran, dan memperbaiki akses jalan.
“Awalnya hanya ingin punya ruang kumpul yang bersih dan nyaman. Tapi ketika lihat warga antusias, anak-anak senang bermain air, dan alamnya ternyata punya daya tarik tersendiri, akhirnya kami putuskan untuk kembangkan jadi kawasan wisata,” jelas Yakub.
Kini, Tibu Joet tak hanya jadi tempat rekreasi, tapi juga ruang tumbuh bagi ekonomi lokal. Warung-warung kecil berdiri di sekitar sungai, menjajakan pelecing kangkung, kopi lokal, hingga jajanan pasar. Suasana sederhana tapi meriah, seperti pesta rakyat kecil.
Jadi Wisata Edukasi
Sudirman, salah satu warga yang kerap datang bersama keluarganya, mengaku senang dengan perubahan ini.
“Ini wisata gratis yang dekat dengan alam. Anak-anak bisa main air, bebas, aman. Dan yang paling penting, jangan buang sampah sembarangan. Ini sudah bagus, kita jaga sama-sama,” ujarnya.
Ke depan, kawasan ini lengkap dengan Warung Lingkungan, sebuah tempat multifungsi untuk kuliner sekaligus pusat pengelolaan sampah terpadu. Harapannya, Tibu Joet tetap bersih, terawat, dan bisa menjadi contoh kawasan wisata yang tidak sekadar indah, tapi juga bertanggung jawab terhadap alam.
Tak hanya itu, Tibu Joet juga mulai dikenal sebagai lokasi edukasi lingkungan bagi anak-anak. Sekolah-sekolah taman kanak-kanak sudah mulai mengadakan kunjungan belajar. Di antaranya, menanam pohon, mengenal ekosistem sungai, hingga menangkap ikan kecil dengan jaring.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu dari buku, tapi menyentuh langsung alamnya. Main air sambil belajar. Mereka bisa tumbuh dengan cinta terhadap lingkungan sejak kecil,” kata Yakub penuh harap. (*)