BERITA NASIONAL

Catatan Gelombang PHK Massal di Indonesia: Sritex, KFC, hingga Yamaha Music, Puluhan Ribu Pekerja Terdampak

Mataram (NTBSatu) — Indonesia tengah menghadapi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal sejak awal 2024 hingga pertengahan 2025.

Berbagai perusahaan dari sektor industri padat karya hingga ritel makanan cepat saji mulai merumahkan ribuan pekerja. Hal itu dampak dari tekanan bisnis dan restrukturisasi operasional.

Berdasarkan data dari DataIndonesia PHK terbesar terjadi pada PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex Grup), perusahaan tekstil raksasa yang resmi dinyatakan bangkrut pada Oktober 2024.

Sejak Agustus 2024 hingga Februari 2025, Sritex telah mem-PHK sebanyak 11.025 karyawan. Puncaknya terjadi pada Februari 2025 yang menyasar 9.604 pekerja. Sritex secara resmi menutup seluruh operasionalnya pada 1 Maret 2025.

Sementara, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang lisensi restoran cepat saji KFC di Indonesia, juga mencatatkan PHK terhadap 2.247 karyawan hingga kuartal III tahun 2024. Langkah ini mereka ambil setelah perusahaan menutup 47 gerai KFC di berbagai wilayah Tanah Air.

IKLAN

Dari sektor tekstil lainnya, PT Asia Pacific Fibers Tbk menghentikan sementara operasi pabriknya di Karawang, Jawa Barat sejak awal November 2024. Dampaknya, sekitar 2.200 karyawan kehilangan pekerjaan.

Industri alas kaki pun tak luput dari badai PHK. Perusahaan manufaktur sepatu pemasok merek global seperti PT Adis Dimension Footwear dan PT Victory Ching Luh Indonesia turut mem-PHK sejumlah karyawan. Langkah itu untuk penyesuaian produksi.

Tak hanya itu, Yamaha Music Indonesia juga telah menutup fasilitas produksinya di Cikarang dan berencana menghentikan operasional pabrik di Pulo Gadung pada Mei atau Juni 2025. Keputusan relokasi pabrik ke China dan Jepang mengancam sekitar 1.100 pekerja kehilangan mata pencaharian.

Fenomena PHK massal ini mayoritas terjadi di sektor industri padat karya, seperti tekstil, alas kaki, dan manufaktur. Namun, sektor lain seperti perhotelan dan industri rokok juga mulai menunjukkan gejala serupa. Menciptakan kekhawatiran akan melebar luasnya gelombang PHK di berbagai sektor ekonomi nasional. (*)

IKLAN

Berita Terkait

Back to top button