Dampak Penutupan Selat Hormuz Iran, Mulai dari Ancaman Inflasi Hingga Resesi Global
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Iran resmi menutup akses navigasi di Selat Hormuz, yang menjadi perlintasan hampir 30 persen minyak mentah dunia, bagi seluruh jenis kapal komersial mulai Minggu, 1 Maret 2026.
Aksi ini akibat tensi geopolitik di wilayah Teluk, yang memicu kekhawatiran global terkait stabilitas pasokan energi.
Prediksinya, penutupan ini akan berpengaruh terhadap kelancaran distribusi komoditas energi, dan secara langsung akan memicu lonjakan harga di pasar internasional.
Salah satu perwakilan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran, menegaskan jika selat Hormuz sudah tidak bisa dilewati lagi.
“Ini adalah Angkatan Laut Sepah, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Mulai saat ini, semua navigasi melalui Selat Hormuz dilarang. Tidak ada kapal, dalam jenis apapun, yang bisa masuk,” katanya, mengutip akun Instagram @blitz_publisher, Minggu, 1 Maret 2026.
Titik Cekik Ekonomi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur sempit sepanjang 34 kilometer yang menjadi urat nadi bagi pengiriman 20 juta barel minyak mentah setiap harinya.
Selain minyak, jalur ini juga sangat penting bagi distribusi gas alam cair (LNG), yang menjadi penopang energi utama bagi kawasan Eropa dan Asia.
Dampak, operasional pada sektor industri, penerbangan, dan transportasi global, bisa langsung merasakan oleh karena terhambatnya pasokan bahan bakar.
Kondisi ini semakin parah dengan tekanan keamanan di Bab el-Mandeb. Sehingga banyak kapal kontainer harus memutar arah, melalui Cape of Good Hope Afrika.
Perubahan jalur ini melumpuhkan efisiensi perdagangan global, dan menambah durasi tempuh hingga hitungan minggu.
Efek Domino pada Rantai Pasok
Selain itu, pemutusan jalur ini juga mengakibatkan guncangan suplai, yang bisa membawa ekonomi global pada fase stagflasi.
Harga minyak mentah juga diprediksi akan menyentuh harga fantastis, dengan nilai tertinggi. Karena hilangnya volume minyak dalam jumlah besar, terlebih pasar yang tidak bisa mendapatkan produsen baru, dalam waktu singkat.
Efek domino juga akan merambat pada rantai pasok barang konsumsi. Adanya pengalihan rute pelayaran, menyebabkan biaya logistik bertambah, dan tarif premi asuransi kapal yang naik drastis.
Gangguan pada dua arus perdagangan utama, yaitu Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, akan menghambat pendistribusian suku cadang manufaktur dan bahan pangan.
Kondisi ini pada akhirnya akan menjadi pemicu utama, kenaikan harga di tingkat konsumen akhir atau masyarakat.
Dampak Bagi Indonesia
Indonesia tentu akan menghadapi risiko fiskal yang serius, mengingat perannya sebagai negara importir bersih (net importer) minyak mentah.
Kenaikan minyak dunia, akan langsung berdampak pada tekanan ruang gerak APBN, khususnya menimbulkan pembengkakan alokasi subsidi energi dan kompensasi BBM serta listrik.
Selain itu, kenaikan biaya logistik laut akan memicu inflasi sektor pangan dan barang industri impor, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat secara signifikan.
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan global masih cukup tinggi. Sehingga, ketahanan energi nasional saat ini berada dalam posisi rentan, karena gangguan distribusi minyak olahan dari luar negeri.
Krisis yang terjadi menjadi momentum kritis bagi Indonesia, untuk mempercepat penguatan cadangan energi nasional dan diversifikasi energi. Sebagai mitigasi ketergantungan terhadap jalur konflik. (Inda)



