Musik

“Kolaboria Soundmeton Lombok” dan Anggapan Musisi Lokal Tak Laku

G: Apa buktinya bahwa anggapan itu tidak benar?

A: Good Wishes dan Rosen Muller tampil saat sore hari. Walaupun mereka tampil di sore hari, ada banyak penonton yang menyaksikan secara langsung dan bersikap tidak pasif. Bahkan, para penonton membuat circle-pit, moshing, dan sangat aktif. Jadi, saya melihat apresiasi yang cukup baik untuk band Lombok. Para penonton bahkan hadir lebih awal, walaupun kami tidak memberikan rundown.

Baca Juga:

G: Beralih ke tagline “Sekitarku Aman”. Apa motif Kolaboria Soundmeton Lombok menyusun hal itu?

A: Pada akhir Juni 2023, tepatnya di Kota Surabaya dalam acara Program Party Surabaya yang diinisiasi Seringai, ada dugaan kekerasan seksual terjadi di acara tersebut. Isu itu kemudian sampai kepada para pengikut MCS dan Memofest. Para pengikut kami kemudian cenderung takut. Mereka menyampaikan keresahan itu melalui direct message. Kemudian, ada keresahan dari teman-teman yang takut hadir ke konser musik lantaran akan diolok-olok oleh orang-orang yang paling merasa tahu soal kancah musik. Atas dasar itu, kami kemudian memproklamirkan tagline “Sekitarku Aman” untuk membuat ruang aman dan nyaman bagi seluruh penonton konser. Tagline itu juga berfungsi sebagai strategi agar penonton mau datang ke Kolaboria Soundmeton Lombok.

G: Apa tindaklanjut dari tagline “Sekitarku Aman” itu? Apakah MCS dan Memofest menyediakan lembaga advokasi dan kesehatan untuk menjamin penonton?

A: Belum. Kami belum menuju ke sana.

G: Kenapa?

A: Kami sadar bahwa pencegahan merupakan hal yang cukup panjang dan harus melibatkan banyak elemen. Kemudian, kami sadar kapasitas personal. Kami hanya sebatas melakukan apa yang mampu untuk dilakukan. Dari Kolaboria Soundmeton Lombok, kami mengharapkan agar penonton yang hadir mulai memperhatikan tentang keamanan dan kenyamanan dari setiap orang. Namun, kalau kami mendapat dukungan atau bantuan dari pihak eksternal, kami sangat membuka ruang untuk berkolaborasi. Saat ini, kami memang hanya ingin membuat orang-orang sadar akan penciptaan konser yang aman dan nyaman bagi seluruh penonton.

Baca Juga:

G: Kalau begitu, bagaimana kalian akan merespons apabila terjadi kekerasan seksual di konser?

A: Hal itu belum dirumuskan. Jujur saja, pengetahuan kami akan advokasi korban kekerasan seksual masih sangat terbatas. Selain itu, kami memang tidak ingin menjadi pahlawan. Apabila masalah itu memang terjadi, kami mungkin akan melakukan pendampingan hingga korban mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga advokasi yang ada. Kami tidak akan melepas korban sepenuhnya.

G: Jika memang seperti itu, artinya tagline “Sekitarku Aman” hanya tampak sebagai sebuah ‘tempelan’ belaka?

A: Kami harap, sih, tidak.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button